Menanggapi Essai Setia Naka Andrian yang berjudul "Menimbang (Ketiadaan) UN"



Saya akan menanggapi essai dari Setia Naka Andrian yang berjudul Menimbang (Ketiadaan) UN (Wawasan, 14 Desember 2016).
Saya sangat setuju dengan pendapat Bapak Setia Naka Andrian. Karena pada saat itu ketika saya masih mengenyam bangku Sekolah Dasar sampai Menengah dimana mendekati detik-detik Ujian Nasional  saya merasa takut, was-was, dan hampir tidak percaya diri dengan kemampuan saya untuk menyelesaikan Ujian Nasional dengan baik. Saya merasa tertekan dengan tambahan mata pelajaran yang akan diujikan di Ujian Nasional yang setiap hari menjadi makanan sehari-hari dari pagi sampai sore. Bahkan ketika saya Sekolah Dasar guru saya memberikan les tambahan di malam hari mulai pukul 18.30 sampai 21.00 WIB. Tentu saja itu mengurangi waktu mengaji malam saya untuk mengaji Al-Quran di guru ngaji saya. Dengan diadakan Ujian Nasional membuat siswa bersemangat belajar dan ada tujuan yang dicapai dalam mencari ilmu. Bukan hanya nilai tetapi juga pengetahuan yang di dapat di sekolah. Namun, alangkah baiknya jika pemerintah tidak hanya menitikberatkan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Bisa saja  nilai Ujian Nasional diambil 60% dan Ujian Sekolah 40%. Dengan begitu siswa tidak merasa terbebani. Untuk sekolah menengah pertama maupun atas sekolah tiga tahun tetapi kelulusan hanya di tentukan tiga hari saja. Dan demi mendapatkan kata lulus dalam ijazah banyak orang tua yang rela membeli kunci soal ilegal dengan harga yang mahal entah itu kunci nya benar semua atau tidak dan tidak jarang ditemui siswa yang tidak lulus mengalami depresi dan hampir nekat melakukan bunuh diri. Fenomena seperti itu bagi saya sangat mengerikan.
Jika memang benar Ujian Nasional akan ditiadakan saya berharap pemerintah memberi keputusan yang tegas agar bisa diterima masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Alami Menghilangkan Kantung Mata Hitam (Mata Panda)

Om Telolet Om Mendunia