Mengancam Kenangan
Teater Tikar Mengancam
Kenangan
Oleh Syafiatul Ufiyah
Kelas 1 D
15410185
Pertunjukan
Teater Tikar Semarang yang mengangkat Naskah : Mengancam Kenangan merupakan teater
tikar karya Iruka Danishwara (anggota teater tikar) yang disutradarai oleh Ibrahim Bhra , yang di
selenggarakan pada hari kamis , 8 Oktober 2015 di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas
PGRI Semarang .
“Kenangan” sebuah kata
yang begitu singkat dan jelas jika kita mendengarnya pasti akan terbesit
satu hal di otak kita yaitu Masa Lalu . Kenangan merupakan suatu momen atau kejadian yang
terjadi pada masa lalu baik suka maupun duka yang dirasakan seseorang dan
selalu terkenang sampai akhir hidup . Dan dari kenanganlah kita bisa menjadi
tahu akan hidup ini . Semakin bisa mengenali siapa dirimu , lebih bisa
menghargai orang lain , atau apapun itu bentuk dan sifatnya .
Naskah Mengancam Kenangan karya Iruka Danishwara mengajak
kita untuk menyikapi Kenangan dengan bijak .
Jika berdamai atau melawan sebuah Kenangan merupakan sebuah kekonyolan ,
maka Mengancam Kenangan menjadi alternatif , karena untuk mengatur kenangan pun
sangat tidak memungkinkan .
Drama yang diperankan
oleh 5 orang pemain diantaranya 2 orang laki-laki dan 3 orang perempuan , 1
dari ke-3 perempuan ini berperan sebagai Nyonya tua yang terbelenggu oleh
kenangan masa lalunya .
Penulis naskah menggunakan simbol-simbol untuk
menggambarkan keadaan yang ada seperti ruang tamu, bak mandi, airnya
meluber-luber, dinding yang berbicara dan masih banyak lainnya.
Dari pertunjukan yang saya tonton saya menangkap , bahwa
hanya ada satu orang wanita yang dipanggil dengan sebutan “Nyonya” yang mempunyai
kenangan pahit dengan suaminya . suaminya pergi bersama sayap emasnya. Setiap
pagi Nyonya membersihkan teras rumahnya beserta pigura-pigura yang tergantung
rapi di dinding ruang tamunya. Debu-debu yang dirumah Nyonya adalah saksi
kenangannya yang cukup pahit. Debu-debu itu juga berilustrasi sebagai masa
kecil anak laki-lakinya. Nyonya selalu menceritakan dongeng kepada sang anak laki-lakinya
namun Nyonya belum pernah menceritakan sosok suaminya kepada sang anak. Suatu
ketika sang anak meminta untuk diceritakan sosok ayahnya namun Nyonya enggan
menceritakan kepada anaknya . Nyonya selalu sedih dan menangis ketika mengingat kenangannya dulu.
Dalam pementasan drama yang berjudul
Mengancam Kenangan , dilihat dari penyutradaraannya rasanya bukan hal yang
mudah untuk menerjemahkan naskah model naratif-diskriptif ini. Terdapat adegan
dan penataan panggung yang sulit dipahami penonton. Penonton sempat
dibingungkan dengan adegan seperti debu-debu berwujud manusia, ditusuknya
manusia manekin, dan penataan panggung dengan tali-tali diurai tak beraturan
dan juga penerangan lampu yang gelap dan remang-remang. Namun semua itu
tertutupi dengan penampilan yang luar biasa dari pemain. Banyak hal yang dapat
kita ambil dari pertunjukkan drama ini. Sederhana saja jika ingin kembali pada kenangan tidak perlu cari
‘kemana’ atau ‘ dimana’ . Kenangan ada di benak kita . Tergantung bagaimana
sikap kita menanggapi kenangan itu , Jika kita menanggapinya baik maka dia akan
baik pula pada kita dan sebaliknya.. Dan cara terbaik untuk memberikan ancaman
pada kenangan adalah dengan menerima, menyaksikan, dan berlapang dada bahwa
kenangan itu akan ada di tempatnya pada seluruh sisa hidupmu .
Komentar
Posting Komentar